jay walker

Loading...

Kamis, 28 April 2011

Pulang Untuk Pergi

Pulang Untuk Pergi

Tak ada yang istimewa dalam pertemuan antara bapak dan anak di serambi itu, ketika malam baru saja menggulung siang. Hanya saja wajah keduanya yang tampak tegang, dan saling bercakap pelan-pelan dan berat. Sesekali sang bapak menghisap rokok keretek yang tinggal separohnya, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan-pelan tepat ke atas meja kayu yang bertaplak kain tak jelas warnanya itu. Dua cangkir teh pahit sudah sejak tadi tidak lagi mengepulkan asap, sudah dingin dan tinggal sedikit bersama ampasnya di dasar gelas. Sang anak hanya diam memandangi lantai sambil memainkan jemarinya di ujung lipatan kain sarungnya. Lalu tiba-tiba sang bapak memecahkan kebuntuan pembicaraan dengan melepaskan kopiahnya dan meletakkannya di atas meja.

“Apa yang Bapak khawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga, Nak ….,” matanya yang cekung memandangi wajah anaknya yang lantas kian tertunduk.

“Maafkan saya, Bapak ….” Si anak menjawab lirih hampir tak terdengar oleh telinga bapaknya.

Kalimat itu sudah diucapkannya beberapa kali sejak tadi. Bola matanya basah, walaupun belum sampai ada tetesan air mata yang mengalir di kedua pipinya yang coklat mengkilat itu. Pandangan matanya makin dalam menusuk lantai di bawah meja. Rasanya ingin menerobos ke dalam tanah dan menemukan lubang persembunyian di dalamnya. Lalu ia akan meringkuk di dalamnya, untuk tak pernah keluar lagi menatap terang dunia. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, ia tak kuasa memandang ke arah wajah bapaknya ketika dia sedang mengajaknya berbicara. Bapaknya memang tak pernah marah kepadanya, tak pernah membentak, bahkan tak pernah berkata kasar apalagi mengeluh tentang perihnya hati menapaki jalan kehidupan yang selalu sulit dan berat mereka jalani.

“Ropin, tanpa kau mengucapkannya pun bapak sudah memaafkanmu sejak dulu.” Kali ini asap rokoknya dihembuskan lurus ke atas, sambil wajahnya menengadah menatap deretan genting yang seperti hendak runtuh karena dimakan usia.

Ropin makin terdiam dan kaku. Pikirannya melayang. Ia kembali teringat ketika tiga tahun lalu ibu dan bapak melepas kepergiannya dengan berat dan diiringi deraian air mata berkepanjangan. Dekapan tubuh kurus ibunya masih terasa hangat, dan kata-kata terakhir yang diucapkannya masih terngiang hingga sekarang: “Ropin, kalau di perantauan jangan lupa tetap sembahyang dan mengaji ….” Kemudian Bapak menyambung: “Kalau nanti pulang belikan Bapak radio kecil, ya Nak. Untuk teman kalau sedang di sawah.” Ropin pun berangkat meninggalkan rumah dan kampungnya yang selama delapan belas tahun menjadi tempatnya bermain dan bermanja.

Di sakunya tersimpan segepok uang, dua juta rupiah, hasil penjualan sebidang tanah di belakang rumah dan hasil tabungan ibunya selama beberapa tahun. Dengan uang sebanyak itu ia akan mengadu keberuntungan di negeri orang. Bersama beberapa orang temannya, dia turuti ajakan seseorang yang mengaku dapat mengantarkan mereka ke negeri jiran. Di sana dijanjikan akan bekerja di perusahaan besar dengan upah yang tinggi dan belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di sebuah pelabuhan kecil di pesisir timur Sumatera, mereka menunggu kedatangan kapal tongkang yang akan membawa mereka menyeberangi Selat malak menuju negeri impian. Sang perantara telah meminta seluruh uang yang mereka bawa dengan alasan sebagai ongkos perjalanan dan biaya administrasi. Ketika salah seorang teman Ropin mengajukan keberatan dengan uang sebanyak itu, lelaki itu dengan ketus menjawab. “Kalau tak berani bayar, pulang saja. Tidak apa-apa. Tapi kamu harus bayar ganti rugi satu setengah juta rupiah!”

Tak ada yang berani membantah setelah itu. Bagai kerbau dicocok hidungnya, mereka menuruti semua ucapan perantara itu. Harapan akan memperoleh pekerjaan dan upah besar masih terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja. Biarlah uang dua juta rupiah hilang, toh itu hanya sama besarnya dengan satu bulan gaji di sana kelak. Dan ketika kapal itu berangkat di tengah malam, sang perantara tidak ikut serta. Sepuluh penumpangnya sekarang di bawah pimpinan kepala rombongan yang berbicara dengan logat Melayu kental. Ropin dan teman-temannya yang asli orang Jawa sering tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh lelaki berkumis tipis itu.

Beberapa jam kemudian menjelang fajar kapal berlabuh di sebuah pantai yang senyap. Lalu mulailah babak baru kehidupan Ropin di sebuah negeri yang dia gambarkan sebagai negeri yang menjanjikan banyak mimpi akan menjadi kenyataan. Tetapi pekerjaan sebagai karyawan perusahaan besar tak dijumpainya. Ia menjadi buruh perkebunan kelapa sawit yang lokasinya sangat jauh di pedalaman. Tetapi ia mencoba menjalaninya dengan sepenuh hati.

Ketika matahari baru terbit sudah harus keluar dari rumah bedeng menuju ke lokasi perkebunan dengan diangkut kendaraan bak terbuka. Menjelang matahari terbenam baru pulang dan kembali ke rumah bedeng yang terbuat dari papan dan triplek. Dalam keadaan tubuh kelelahan maka sepanjang malam hanya dihabiskan untuk berbaring di atas tikar. Gaji bulanan yang diterima ternyata tidak sebesar yang dijanjikan. Itu pun dibayarkan tidak setiap bulan. Kadang-kadang harus masih dipotong untuk keperluan yang tidak jelas. Dan dengan uang sebesar itu hanya cukup untuk biaya membeli bahan makanan dan bumbu dapur. Keterpaksaanlah yang akhirnya membuat Ropin harus bisa memasak menggunakan tungku dengan kayu bakar yang dipungutinya dari pinggiran hutan. Hal yang tak pernah dilakukannya ketika masih di kampung dulu, karena ibunya yang selalu melakukan itu untuknya. Sisa sedikit uang dari penghematan yang teramat ketat disimpannya dengan sangat rapi dan rahasia di balik lipatan bajunya. Takut hilang atau dicuri orang.

Kenyataan ternyata lebih keras dan pahit dari bayangan ketika di kampung dulu. Hatinya terus berontak dan ingin menjerit. Mimpi-mimpinya mulai hancur berkeping-keping, berserakan di langit khayalannya yang terus mengembara tak tentu arah. Di sela-sela kelelahan raga meratapi getirnya kehidupan yang harus dijalani, Ropin makin tak berdaya menatap puing-puing harapan yang beterbangan ditiup angin. Tangannya lunglai meremas ujung tikar kumal yang lembab dan menebar bau tak sedap karena tak pernah sempat dijemur di bawah terik matahari. Tatapan matanya layu, meredam keputusasaan dan kemarahan yang terus datang bertubi-tubi.

Mimpi yang pernah diceritakan kepada ibunya tak dapat diraihnya. Harapan yang pernah dijanjikan di depan bapaknya, kini sirna dan tak dapat diwujudkannya. Ia telah lupa pesan ibunya agar tidak meninggalkan sembahyang dan mengaji. Ia telah remuk dilumat kekecewaan dan dirundung kebimbangan. Bagaimana jika ia pulang kembali ke kampung halamannya kelak, pakaiannya berubah kumal, rambut dan jambang tak terawat, dan badan kurus kering begini? Apa komentar teman-teman dan para tetangganya jika melihat kepergiannya dulu melangkah gagah tetapi pulangnya tak membawa apa-apa? Bagaimana dia bisa memenuhi permintaan bapaknya yang ingin dibelikan pesawat radio kecil? Ah, tidak!

Ia terkenang kembali ketika dulu merajuk di hadapan ibu dan bapak agar mencarikan uang untuk biaya keberangkatannya ke negeri ini. Orangtuanya yang hanya buruh tani terperangah dengan nominal uang dua juta rupiah yang disebutkannya. Uang sebanyak itu memang sering didengarnya, tetapi untuk bisa menyediakannya dalam waktu singkat apakah mungkin? Ibu berusaha meyakinkan agar tak usah mencari pekerjaan terlalu jauh dengan menyeberang lautan. Lebih baik miskin di kampung sendiri daripada mengais rejeki yang belum tentu adanya di negeri orang yang jauh. Bapak juga mengingatkan, mereka ingin ditunggui oleh Ropin di hari tuanya. Bagaimana jika mereka kangen, sedangkan Ropin ada di sebuah tempat yang tak diketahuinya sama sekali?

Ropin tak juga menyerah. Janji-janji dari sang perantara dan cerita indah dari teman-temannya telah membiusnya dan membuat lupa akan kemampuan ekonomi orang tuanya. Ia malah mengumbar janji pula di hadapan ibu dan bapak, justru dia akan merubah kehidupan keluarga mereka dengan mencari uang banyak di perantauan. Mau bekerja apa di kampung mereka agar dapat memperoleh uang banyak untuk membangun rumah dan membeli perabotan bagus seperti majikan mereka, Wak Haji Sobri. Ropin membual kelak akan pulang dengan membawa perubahan besar bagi keluarganya. Dan untuk melakukan semua itu perlu pengorbanan. Dan modal hanya dua juta rupiah, Ibu! Tidak lebih dari itu, Bapak! Percayalah pada Ropin. Ropin berkata dalam hati tak akan mengecewakan orang-orang yang sangat dicintai dan dihormatinya itu.

“Ah, Ropin anakku satu-satunya …. kalau itu memang maumu ibu dan bapak akan mengusahakannya.” Kalimat yang meluncur lembut dari bibir ibunya yang merah karena mengunyah sirih itulah yang diharapkan Ropin sejak sebulan kemarin. Serasa dunia berada di dalam genggaman tangannya. Oh, mimpi-mimpi itu pasti akan kuwujudkan tidak lama lagi. Mereka akan menjadi kaya, tidak lagi menjadi buruh di sawah dan kebun Wak Haji Sobri yang pemarah itu. Ropin janji, Bu. Jangan khawatir, Pak. Doakan saja semoga Ropin selamat dan lancar rejekinya.

Lalu ia teringat pula ketika ibunya masuk ke dalam biliknya dan tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa sebuah bungkusan dari kain berwarna merah. Dibukanya bungkusan yang diikat erat-erat itu di atas meja. Lalu ia menyaksikan ibunya menghitung pelan-pelan lembar demi lembar uang ribuan yang lusuh dan berdebu. Bapak ikut membantu. Ropin berharap uang itu ada dua juta. Namun setelah lama menghitung, ternyata hanya lima ratus ribu!

“Sebenarnya uang ini Ibu tabung dari sedikit-sedikit untuk biaya pernikahan kamu, Pin. Hampir empat tahun Ibu menabung, tetapi hanya sekian yang terkumpul. Padahal Ibu ingin tahun depan kamu menikah dan segera memberikan ibu cucu.” Ropin menelan ludah dan kerongkongannya tercekat oleh kekecewaan yang tiba-tiba mendera. Senyuman yang tadi mengembang berubah menjadi kemuraman. Bapak melihat itu.

“Jangan sedih dulu, Pin. Nanti tanah pekarangan yang di belakang rumah itu kita jual saja kepada Wak Haji Sobri. Bisa untuk tambahan biaya.” Bapaknya berkata datar, tetapi kembali melecut semangat di hati Ropin seperti mendapat sengatan listrik bertegangan tinggi.

Ropin meneteskan air mata mengingat semua itu. Trenyuh telah menyaksikan pengorbanan Ibu dan Bapak yang tulus. Menyesal karena telah memaksa mereka melakukan hal yang sangat sulit. Kecewa karena mimpi dan harapannya kandas. Sedih karena dunia ternyata makin gelap dan kejam. Nelangsa karena hidupnya berubah menjadi papa dan nista. Sirna. Dan pupus.

Ropin mengutuki dirinya yang malang. Menyalahkan nasibnya yang tak beruntung. Ia membalikkan tubuh, dan mendesah keras sambil mengepalkan tinju dan dipukulkannya keras-keras ke lantai tanah yang dingin. Huh! Kenapa semua ini terjadi pada diriku? Andaikata saja dulu aku tak memaksa Ibu dan Bapak …. Ropin bergumam lirih di sela isaknya yang tertahan. Hampir tiga tahun tinggal di tengah perkebunan kelapa sawit yang luas dan jauh dari keriuhan kota dan hingar-bingar dunia, telah menjadikannya pribadi yang asing bagi dirinya sendiri. Benar-benar asing dan terasing.

***

Lelah merenung dan meratapi nasib membuat mata Ropin pelan-pelan terpejam setelah lewat tengah malam yang dingin itu. Dengkurnya mulai terdengar kasar. Tetapi tidak lama. Karena kemudian di luar terdengar suara gaduh dan teriakan-teriakan yang tak jelas apa yang diucapkannya. Sangat riuh dan kacau. Papan-papan kayu dipukuli dan rumah-rumah bedeng dirobohkan dan dihancurkan. Penghuninya yang sedang terlelap kalang kabut dan berlarian kesana-kemari. Ropin pun segera bangun dan berlari keluar dari rumah bedengnya, tetapi ia kemudian terjatuh dan mengaduh karena tertabrak temannya yang berlari kencang.

“Ada polisi! Ada polisi! Cepat lari, sembunyi di hutan sana!” Teriakan teman-temannya yang segera menyadarkan Ropin untuk segera mengambil langkah seribu.

Dan diikutinya teman-temannya yang dengan cepat menghilang di kegelapan malam menuju hutan yang terletak di seberang perkebunan. Razia polisi negeri jiran itu akhirnya sudah sampai di tempat mereka juga. Padahal lokasinya jauh dan terpencil. Ah, sialan! Ropin mengumpat. Ia tidak sempat membawa tabungan uangnya yang tadi diletakkan di bawah sarung yang dijadikan bantalnya. Tapi rasa takut tertangkap polisi ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah bedeng itu. Kembali ia lari dan berlari.

Di hutan yang tak begitu lebat itu Ropin dan beberapa orang temannya bersembunyi dan mencoba bertahan hidup selama beberapa hari dengan memakan daun dan umbi-umbian yang mirip talas hutan. Dan ketika pada hari kelima mereka mencoba mengendap-endap kembali menuju rumah penampungan mereka di perkebunan itu. Mereka mendapatinya sudah rata dengan tanah, tinggal arang dan onggokan sampah kayu. Hancur sudah segalanya. Musnah sudah semua miliknya.

Sesal dan tangisan dalam hati begitu kental. Tetapi tak cukup kuat untuk disuarakan oleh bibirnya yang kehausan dan kelaparan. Manakala Ropin mencoba mengais puing reruntuhan rumah bedengnya yang dibakar dengan harapan masih ada sisa miliknya yang masih bisa diambil, ia mendengar hardikan keras tepat di belakangnya.

“Ayo, semua ikut kami! Jangan ada yang mencoba lari!” Suara polisi yang keras dan berwibawa , atau malah arogan.

"Kalian semua pendatang haram. Maka harus kami tangkap!” Ropin pasrah. Ia menurut saja ketika digiring bersama teman-temannya menuju truk polisi. Lelah dan lapar tak mungkin lagi dapat membuatnya berpikir dan bertindak lebih banyak. Inilah kenyataan yang harus diterima. Ia akan kembali ke kampung halaman menemui ibu dan bapaknya dengan membawa kenyataan yang teramat getir. Apapun yang terjadi. Apapun kata orang nanti.

Begitulah hidup bergulir. Setelah dua minggu ditampung di sebuah bangunan yang tidak tahu namanya, mereka digiring paksa menuju sebuah kapal yang akan mengangkut mereka ke tanah leluhur bernama Tanah Air tercinta. Di atas kapal yang penuh sesak Ropin terserang demam dan muntah-muntah. Tak ada yang menolong, kecuali seseorang yang berdiri di dekatnya yang memijiti tengkuknya sambil melafalkan doa dan berbisik agar Ropin membaca istighfar.

Begitu menginjakkan kaki di pelabuhan Tanjung Priok, Ropin jatuh pingsan. Dan ketika tersadar ia sudah berada di sebuah kamar yang hiruk pikuk. Tak ada yang mengenalnya, tak ada yang dikenalnya. Ketika seorang petugas menanyakan identitas dan alamatnya, Ropin menjawab dengan terbata-bata. Lalu petugas itu menjanjikan besok pagi akan diantar sampai ke rumah. Ropin tidak ingin menunggu sampai besok pagi, sekarang saja kalau bisa. Ia ingin segera bersujud dan bersimpuh di kaki kedua ibu bapak yang mungkin selalu mendoakan dan mengharapkan kehadirannya. Menantikannya selama tiga tahun.

***

Dan kini Ropin telah ada di serambi rumah kecilnya yang lapuk. Di hadapannya duduk bapaknya yang masih menghiasi wajahnya dengan aura ketabahan. Walaupun di hatinya berkecamuk rasa kecewa dan sedih berkepanjangan.

Tiba-tiba sang ibu keluar dari pintu yang sejak tadi terbuka separohnya. Suara batuknya seperti mengalir. Wajahnya tampak semakin tua dan kurus. Dia mencoba mengatasi kebekuan suasana dengan tetap tersenyum.

“Sudahlah, Pin. Jangan terlalu bersedih. Biarlah yang sudah terjadi kita lupakan saja. Semua sudah kehendak Gusti Allah.” Suaranya pelan dan lembut, menyadarkan lamunan Ropin yang sejak tadi mengembara.

“Yang penting kamu bisa pulang kembali dengan selamat. Kita berkumpul lagi seperti dulu, Ibu sudah sangat senang." Diusapnya rambut anaknya yang hanya mengangguk pelan. Ropin yang sejak tadi merasa mengusung beban yang teramat berat seakan mendapat curahan air hujan yang sejuk. Dipegang erat-erat dan gemetar tangan ibunya, lalu diciumnya. Ditatapnya bola mata yang tertanam jauh di bawah kelopak yang keriput namun bersinar teduh itu. Ropin ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya tak dapat digerakkan. Kerongkongannya laksana tercekik. Oh, ibu …. Aku telah menghancurkan semua mimpi dan harapanmu. Aku telah mengecewakanmu. Maafkan aku, Bu! Ampunkan semua dosa dan kesalahan Ropin, Bu! Ibunya tak mengerti apa yang hendak dikatakannya. Ia takut menatap lebih lama wajah ibu yang begitu menyayanginya.

“Sekarang kamu makan dulu. Lalu pergilah tidur, besok kita masih bisa ngobrol lagi.” Ibunya menarik tangan Ropin agar segera bangun dari duduknya. Ropin masih belum juga beranjak.

“Ayo sana. Turuti kata-kata ibumu. Kamu kan masih perlu istirahat.” Bapak menambahkan.

Ropin berjalan agak terhuyung menuju pintu masuk rumahnya diiringi tatapan mata kedua orangtua yang tak ingin ditinggalkan pergi lagi oleh anak satu-satunya itu. Dan ketika dia menghilang di balik pintu, ibu dan bapak itu menghela nafas panjang hampir bersamaan.

“Ya Allah ….”, wanita itu mendesah sambil merapatkan duduknya di samping suaminya yang tetap diam. Lalu kembali keheningan meraja. Pikiran mereka terbang sendiri-sendiri menjelajahi wilayah imajinasi yang sumir. Begitu kejamkah peran yang mesti dilakoni mereka, sehingga untuk dapat menikmati kebebasan tersenyum saja begitu sulitnya? Barangkali benar adanya, dunia memang kejam dan tidak ramah, setidaknya bagi orang-orang tak beruntung seperti mereka.

Lama keheningan mengurung mereka. Hingga lewat tengah malam barulah wanita itu menyadarkan lamunan suaminya.

“Bapak tidak mengantuk?”

“Belum, Bu. Biar Ibu tidur duluan, nanti sebentar lagi aku menyusul.”

Lalu wanita itu pun segera berlalu masuk ke dalam rumah. Dihampirinya meja tempat dia tadi meletakkan makanan untuk anaknya. Masih utuh. Tak ada yang berkurang atau bergeser sedikit pun. Berarti Ropin tidak mau makan, pikirnya. Mungkin dia masih kelelahan makanya langsung pergi tidur. Rasa sayang dan khawatir yang teramat kental terhadap keadaan anak yang begitu dicintai mendorongnya melongok ke dalam kamar Ropin yang pintunya memang tak dapat ditutup rapat itu. Dilihatnya pembaringan yang hanya beralaskan tikar pandan itu kosong.

Didorongnya daun pintu itu pelan-pelan, suaranya berderak. Tiba-tiba mata wanita itu terbelalak, hatinya terkesiap, dan secara reflek menjerit lantang. Pemandangan di depan matanya teramat dahsyat menghunjam batinnya yang sedang muram dan lelah. Lalu dunia seakan gelap, langit seolah runtuh, dan bumi terasa berguncang hebat.

Suaminya yang masih duduk di depan terperanjat mendengar teriakan istrinya yang diikuti suara benda jatuh. Khawatir telah terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya di dalam, ia pun segera bangkit dan bergegas menuju ke dalam rumah. Matanya segera tertuju ke dalam kamar Ropin. Hatinya hancur, perasaannya melayang. Sebagai seorang laki-laki baru kali ini ia dipaksa harus meneteskan air mata tanpa dapat berkata apa-apa.

Langkahnya gontai mendekati kamar itu. Dilihatnya tubuh istrinya terbujur pingsan dengan sebelah tangannya masih memegang kaki Ropin yang tergantung kaku dengan lidah terjulur. Seutas tali jemuran mengikat lehernya ke balok di atas kamar itu. Luluh lantak dunia terasa. Ditatapnya wajah Ropin yang pucat dan diam. Anaknya yang waktu kecil dulu sering digendong ke sawah untuk menemaninya membajak sawah. Yang suka merengek minta dibuatkan seruling batang padi atau ditangkapkan belalang, kini telah meninggalkannya. Ropin telah pergi, menentukan sebuah pilihan yang berat. Menyisakan impiannya yang masih tetap berupa mimpi.

Lelaki itu lama terpaku. Beban yang teramat berat segera menindih batinnya yang selama ini tegar. Lalu keperkasaannya pun runtuh pelan-pelan dan dia kehilangan kesadarannya pula lalu jatuh tergeletak di samping tubuh istrinya. Kemudian sunyi. Angin malam berhembus dingin menerobos lewat pintu depan yang terbuka, menyaksikan puing-puing mimpi yang hancur dan kandas di ruangan sempit yang remang-remang itu. Di rumah yang dingin dan beku. Melepas Ropin yang kini benar-benar telah pergi, dan tak pernah akan kembali.

diambil dari: kumpulan lomba cerpen tahun 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan saran Anda, kami butuhkan